Dalam penetapan pH tanah terdapat dua macam metoda yang digunakan, yaitu cara kalorimetri yang berdasarkan warna dan pH meter. Penetapan pH berdasarkan warna dilakukan dengan menggunakan indikator (kertas lakmus), cara ini biasanya dilakukan di lapang.
Penetapan dengan pH meter biasa dilakukan di laboratorium dan nilai yang didapat biasanya berbeda dengan nilai yang ditetapkan berdasarkan warna. Hasil pengukuran dengan pH meter sangat bervariasi, tergantung dari ketelitian persiapan tanah yang akan dianalisis.
Faktor yang mempengaruhi penetapan pH tanah antara lain ;
1. Perbandingan air dengan tanah
2. Kandungan garam -garan dalam larutan tanah dan
3. Keseimbangan CO2 udara dengan CO2 tanah
Nisbah antara air dengan tanah yang digunakan biasanya adalah 1 : 1, 2,5 :1 atau 2 : 1. Makin tinggi nisbah ini makin tinggi pH tanah. Apabila perbandingan ini terlalu rendah, maka kontak antara larutan tanah dengan elektroda tidak sempurna, akibatnya pengukuran menjadi kurang teliti.
Umumnya tanah pada daerah basah bersifat asam, sedangkan tanah pada daerah kering bersifat basa (alkalin). Pada tanah asam, larutan tanahnya mengandung lebih banyak ion hydrogen (H +) daripada ion hidroksil (OH-) sedangkan pada tanah basa, larutan tanahnya mengandung lebih banyak (OH-) daripada (H +).
Oleh karena itu, perlu diketahui faktor-faktor yang menyebabkan adanya berbagai konsentrasi (H +) dan (OH-) yang bertanggungjawab pada kisaran pH dari 4 sampai 10 yang biasanya dijumpai pada tanah-tanah pertanian.
