<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Ojimori News</title>
	<atom:link href="http://www.ojimori.com/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.ojimori.com</link>
	<description>Download Journal, Film, Mp3 dan Buku</description>
	<lastBuildDate>Mon, 12 Nov 2012 20:11:33 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.5.1</generator>
		<item>
		<title>KAPITALISASI KEKUASAAN</title>
		<link>http://www.ojimori.com/kapitalisasi-kekuasaan-20121112</link>
		<comments>http://www.ojimori.com/kapitalisasi-kekuasaan-20121112#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 12 Nov 2012 20:11:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Politik]]></category>
		<category><![CDATA[KAPITALISASI]]></category>
		<category><![CDATA[KEKUASAAN]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ojimori.com/?p=8812</guid>
		<description><![CDATA[Jika demokrasi bertolak dari asumsi bahwa rakyat yang berdaulat, rakyat pemilik sejati kekuasaan, maka rakyatlah mestinya yang menjadi “king maker”. Melalui hak otoritatif, otonomi sikap dan perilaku, serta pilihan bebasnya, rakyatlah yang seharusnya, baik prosedural maupun substansial, yang menciptakan para penguasa. Segala bentuk peraturan perundangan dan semua lapis penyelenggara mekanisme proses-proses kontestasi untuk melahirkan para [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><BODY readability="0">Jika demokrasi bertolak dari asumsi bahwa rakyat yang berdaulat, rakyat pemilik sejati kekuasaan, maka rakyatlah mestinya yang menjadi “king maker”. Melalui hak otoritatif, otonomi sikap dan perilaku, serta pilihan bebasnya, rakyatlah yang seharusnya, baik prosedural maupun substansial, yang menciptakan para penguasa. Segala bentuk peraturan perundangan dan semua lapis penyelenggara mekanisme proses-proses kontestasi untuk melahirkan para penguasa, hanyalah sarana, instrumen. <P>Itulah barangkali yang diam-diam dibayangkan oleh para pemikir abad pencerahan Eropa, yang pikiran-pikirannya dulu kemudian menjadi pilar-pilar penting bagi rumah demokrasi. Tetapi, di era pertarungan ideologi yang menurut Fukuyama dan Daniel Bell telah dimenangkan oleh liberalisme-kapitalisme ini, demokrasi telah mengalami pelbagai perkembangan distorsif luar biasa. Rakyat, alih-alih menjadi “king maker” yang perkasa, bahkan untuk mempertahankan kedaulatannya sendiri saja amat sangat kerepotan. Capek dan melelahkan. Rayat bukan saja tidak berdaya, tetapi juga kelewat sering diperdaya.</P><P>Kapitalisasi Kekuasaan</P><P>Distorsi demokrasi yang paling dahsyat dan masif saat ini adalah kapitalisasi kekuasaan. Gejalanya sangat fenomenal. Marak merebak, bukan hanya pada lapis puncak dimana kekuasaan itu diperebutkan. Tetapi juga pada lapis terbawah dimana kekuasaan diburu seperti seekor binatang ekonomi; pencetak uang, pengumpul pundi-pundi kekayaan, dan laba usaha yang dikumulasi dan dapat diwariskan secara turun temurun.</P><P>Oleh sebab fungsi faktual kekuasaan yang demikian itu, maka untuk memperoleh kekuasaan pun kemudian dilakukan dengan cara-cara machiavellian. Segala cara menjadi serbaboleh dan halal untuk tujuan yang diburu. Persetan dengan etika, moral dan segala tetekbengek norma dan hukum tentang baik-buruk, benar-salah, halal-haram. Nalarnya jelas dan sederhana : memburu uang harus dengan uang. Dan uang tidak pernah memiliki nasab; tidak belajar etika dan moral; tidak pula diperkenalkan dengan norma.</P><P>Maka untuk menjadi penguasa Desa, seseorang wajib menyiapkan belasan, puluhan bahkan ratusan juta rupiah. Untuk menjadi penguasa Kabupaten atau Kota, seseorang harus menggelontorkan belasan atau bahkan puluhan milyar rupiah. Silahkan diperkirakan sendiri untuk menjadi Gubernur, Menteri dan Presiden.<BR>Yang menyedihkan, kapitalisasi kekuasaan ini, diam-diam seperti sudah disepakati bersama diantara para aktor pemburu dan para sekondan penyedia jasa perburuan. Sebuah kesepakatan dibawah tangan; yang dilakukan bisa di teras pendopo, di kantor partai, di sekretariat LSM, di ruang rektor, di meja redaksi, di padepokan jawara, bahkan di mihrab-mihrab berkhalwat para kyai. Rakyat yang mayoritas masih gagap dan lebih banyak tak faham, difetakompli. Dipaksa untuk menjadi makmum dari sebuah jama’ah persekongkolan perburuan kekuasaan.</P><P>Tololnya kemudian, masih banyak diantara para konspirator perburuan itu yang dengan sangat tega menyimpulkan bahwa rakyat sendirilah yang tidak cerdas, rendah kesadaran politiknya, tidak otonom dan gampang dibeli bahkan hanya dengan sekardus mie instan. Lalu, dengan otak dan nurani tanpa dosa, dengan sangat enteng mereka juga mengumbar argumentasi, bahwa itu semua adalah cost politic yang wajar di alam demokrasi. Preeet !</P><P>De-kapitalisasi Elit Strategis</P><P>Lalu, masih bisakah rakyat jadi “king maker” yang bertenaga besar dalam kerangka dinamis penyelenggaraan kekuasaan di negeri ini ? di kabupaten/kota ini ? di provinsi ini ? may be yes, may be not. Sangat tergantung pada seberapa kuat kesadaran kolektif bangsa ini, bahwa telah terjadi distorsi yang kelewat jauh dari konstruksi ideal demokrasi yang dibangga-banggakan itu, dan karenanya ia harus dikembalikan pada track yang benar. Bahwa rakyatlah yang seharusnya menciptakan para penguasa, bukan uang dan yang lain-lainnya.</P><P>Tetapi kita tahu, bangsa ini demikian besar. Dan bagian terbesar dari bangsa ini adalah mayoritas yang silent. Mereka diam, bukan lantaran tidak faham dan tidak punya kehendak tentang kearah mana seharusnya negeri ini dibawa; ke tujuan mulia macam apa seharusnya masadepan negeri ini diproyeksikan. Mereka diam lebih karena ketidaksanggupan struktural yang menghimpit. Kemiskinan, kekurangcukupan pendidikan, keterbatasan akses atas informasi dan ketidakleluasaan gerak atas resources yang tersedia. Dan semua serbaketerbatasan itu jelas disebabkan oleh masih lebarnya kesenjangan yang tercipta sebagai produk kebijakan politik yang tidak adil.</P><P>Maka tidak berlebihan jika kemudian, diam-diam rakyat yang silent majority itu sesungguhnya berharap banyak kepada para elit strategis, kelompok-kelompok masyarakat menengah yang tercerahkan, untuk mewakili kepentingan dan kehendak mereka. Para elit strategis adalah elemen-elemen masyarakat yang secara sosio-politik menempati posisi-posisi penting dalam masyarakat oleh sebab aksesnya terhadap kekuasaan dan resources sangat terbuka. Meskipun mungkin mereka bukan bagian dari sistem dan struktur kekuasaan.</P><P>Mereka bisa ada di kampus, di pesantren, di dunia usaha, di media massa, di LSM dan ormas, atau bahkan di tubuh partai politik dan komunitas para jawara. Mereka inilah yang sesungguhnya sangat determinatif memainkan peran bagaimana performa kekuasaan dikelola dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Kita semua tahu belaka, bahwa para bakal calon kepala daerah dimanapun di republik ini, pastilah merupakan orang-orang yang telah mempersiapkan diri secara finansial untuk bertarung dan bertaruh dalam perburuan kekuasaan tadi.</P><P>Tetapi apa artinya pundi-pundi deposito mereka; apa artinya kekayaan mereka, jika kemudian tak seorangpun dari elemen-elemen elit strategis tadi bersedia menjadi bagian dari jangkar mereka untuk menancapkan patok-patok pengaruh kuasanya atas rakyat. Para pemburu kekuasaan itu jelas membutuhkan mereka, dengan resiko harus membayar berapapun. Sayangnya, inilah gejala masif yang justru sedang marak terjadi di sekililing kita. Ya, kapitalisasi elit strategis memang telah menjadi bagian dari konteks kekinian sejarah perburuan kekuasaan di negeri ini.</P><P>Maka samasekali bukan berita aneh lagi, kalau seorang aktifis misalnya, dengan mudah dibeli kepalanya. Sama tidak anehnya dengan berita seorang kyai, dosen, pengamat, penggiat kebudayaan, tokoh LSM dan ormas, jurnalis, ahli hukum, ahli manajemen, juga dibayar kontan untuk memuluskan ambisi para pemburu kuasa itu, dengan cara-cara machiavellian sekalipun. Mereka, tanpa akad yang sah secara moral dan etik, membiarkan dirinya disetubuhi kekuasaan. Crot !</P><P>Nah, selama para elit strategis, yang kerjanya mengkhianati dan memfetakompli rakyat itu terus bersenggama secara tidak halal dengan kekuasaan, jangan pernah berharap bahwa rakyat akan menjadi “king maker” di area kedaulatannya sendiri. Rakyat akan tetap hanya menjadi kawula yang lebih sering diperdaya ketimbang berdaulat, bahkan atas dirinya sendiri. Sebaliknya, bangsa ini mungkin masih bisa berharap akan terjadi perbaikan berarti dan hakikiyah, bahwa rakyat benar-benar berdaulat dalam menentukan pilihan-pilihan pemimpinnya, jika kapitalisasi di tubuh para elit strategis dapat dihentikan.</P><P>Masalahnya, siapkah mereka mengambil langkah besar dan pasti akan sangat mensejarah, dengan cara mengorbankan segala fasilitas, pesona dan kenikmatan-kenikmatan yang ditawarkan kekuasaan selama ini ?</P><P>Penulis adalah analis politik FISIP Unma Pandeglang,<BR>peneliti di LPPM STIE La Tansa Mashiro Rangkasbitung.</P></p>
<p>kompasiana</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ojimori.com/kapitalisasi-kekuasaan-20121112/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Reborn Baby Doll alias Bayi Aspal</title>
		<link>http://www.ojimori.com/reborn-baby-doll-alias-bayi-aspal-20121109</link>
		<comments>http://www.ojimori.com/reborn-baby-doll-alias-bayi-aspal-20121109#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 09 Nov 2012 15:15:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Politik]]></category>
		<category><![CDATA[alias]]></category>
		<category><![CDATA[Aspal]]></category>
		<category><![CDATA[Reborn]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ojimori.com/?p=8810</guid>
		<description><![CDATA[Baby Helena ( http://www.reborn-baby.com)Baby Dawn ( http://www.reborn-baby.com)Jika melihat gambar gambar bayi di atas rasanya gemes sekali , karena kita mengira bayi betulan. Padahal mereka adalah Reborn Baby Doll alias bayi aspal  ciptaan manusia.Reborn baby adalah boneka yang mirip sekali dengan bayi  betulan.  Kulitnya halus entah dari apa di ciptakannya. Memakai perlengkapan bayi yang sangat mahal. [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><BODY readability="0"><P><IMG class="aligncenter size-medium wp-image-186444" title=1336232540282471806 alt=1336232540282471806 src="http://www.ojimori.com/wp-content/uploads/2012/05/wpid-1336232540282471806300x225.jpg" width=300 height=225>Baby Helena ( http://www.reborn-baby.com)</P><P><IMG class="aligncenter size-medium wp-image-186445" title=1336232687662773860 alt=1336232687662773860 src="http://www.ojimori.com/wp-content/uploads/2012/05/wpid-1336232687662773860300x225.jpg" width=300 height=225>Baby Dawn ( http://www.reborn-baby.com)</P><P>Jika melihat gambar gambar bayi di atas rasanya gemes sekali , karena kita mengira bayi betulan. Padahal mereka adalah Reborn Baby Doll alias bayi aspal  ciptaan manusia.</P><P>Reborn baby adalah boneka yang mirip sekali dengan bayi  betulan.  Kulitnya halus entah dari apa di ciptakannya. Memakai perlengkapan bayi yang sangat mahal. Boneka ini sudah terkenal hingga ke berbagai negara UK,  Latin Amerika, Eropa, Afrika , Canada  juga Australia.</P><P>Pertama kali reborn baby diciptakan di Amerika pada tahun 1990,  penjualannya saat itu hanya lewat internet. Lalu pada tahun 2009 The Secrist Doll company di Amerika mulai memproduksi  bahan bahan pembuat bayi palsu ini, lengkap dengan video petunjuk cara membuatnya, demikian kutipan dari wikipedia</P><P>Salah satu seniman yang sukses membuat bayi palsu ini bernama Deborah King yang berasal dari sebuah desa indah di Scotlandia.  Sudah lima tahun ia menjalankan bisnis membuat reborn baby doll. Karya-karyanya di pasarkan di Ebay dengan harga yang lumayan mahal,  dari  AUD 400 &#8211; AUD 800.Setiap boneka diberi nama lengkap dengan atribut bayi.</P><P>Saya membaca tentang boneka bayi aspal ini dari  majalah ” What’s life ” terbitan Australia. Seorang ibu membagi kisah suksesnya membuat boneka aspal.  Diawali ketika baru saja melahirkan dan merasa tak ada kegiatan, iseng ia menemukan tulisan tentang bayi aspal. Lalu ia membeli alat alat dan perlengkapan untuk membuat bayi aspal plus baju baju bayi lengkap dengan dot dll.  Ia memajang hasil karyanya di FB dan ternyata banyak yang tertarik. Ada seorang ibu yang anaknya meninggal , minta dibuatkan boneka yang mirip anaknya ketika bayi.Ada juga yang membeli karena tak mau repot punya bayi beneran.</P><P>Tadi siang ketika saya berada di mall, dua kali saya melihat orang yang berbeda mendorong kereta bayi yang isinya bayi aspal.</P><P>Ketika saya tawarkan ke seorang sahabat saya, mau ngga punya reborn baby….jawabnya ” Iiiiih gue takut, ntar tahu tahu hidup”</P><P>Makin lama dunia makin aneh saja. Banyak wanita yang mendambakan anak, kadang sampai membeli boneka boneka mahal ini. Andai saya tak punya anak, ogah banget beli boneka.</P><P>Menurut pendapat saya. seindah indahnya ciptaan manusia , tak akan mampu menandingi kesempurnaan ciptaan Allah.  Subhanallah…</P></p>
<p>kompasiana</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ojimori.com/reborn-baby-doll-alias-bayi-aspal-20121109/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>rasa-rasanya</title>
		<link>http://www.ojimori.com/rasa-rasanya-20121106</link>
		<comments>http://www.ojimori.com/rasa-rasanya-20121106#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 06 Nov 2012 10:27:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Politik]]></category>
		<category><![CDATA[rasarasanya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ojimori.com/?p=8806</guid>
		<description><![CDATA[kecewa rasanya ketika keberadaan kita sama sekali nggak dianggap orang lain. nah, pertanyaannya adalah… what should I do? seringkali aku merasa bingung dengan diri sendiri. apa yang akan aku lakukan, dan apa yang harus aku perbuat? nah loh, kata-katanya aja udah ga bener gini. sedikit cerita, jadi… ga tau kenapa aku ini sering banget yang [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><BODY readability="0"><P>kecewa rasanya ketika keberadaan kita sama sekali nggak dianggap orang lain. nah, pertanyaannya adalah… what should I do? seringkali aku merasa bingung dengan diri sendiri. apa yang akan aku lakukan, dan apa yang harus aku perbuat? nah loh, kata-katanya aja udah ga bener gini. sedikit cerita, jadi… ga tau kenapa aku ini sering banget yang namanya dilupakan* (capslock, bold, tanda seru). meskipun aku sadari, bukan salah mereka jika mereka menganggap aku ini “nothing” bukan apa-apa bagi mereka. yeah,, merendah diri… sebentar, aku juga tau pasti merasa rendah diri itu bukan sesuatu yang harus dibanggakan dan dipertahankan. entah kenapa aku ini sangat ber-perasa.. apalagi sama orang yang belum aku kenal. jadi berperasa itu, merasa kurang mampu…toh ada yang lebih bisa dari aku. merasa ga dibutuhkan, toh masih banyak yang lain. merasa ga cocok dengan sesuatu, padahal sesuatu itu baik buatku. nah… rasa-rasa yang kaya’ gini nih yang ga bagus… ooo…. kapan aku bisa membalik rasa-rasa itu?? aslinya sih, take it easy aja… ga usah terlalu dibuat pusing… cuma… gara-gara berasa itu jadinya sering banget kecewa. hhmm….</P></p>
<p>kompasiana</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ojimori.com/rasa-rasanya-20121106/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cambuk Untuk Marni!</title>
		<link>http://www.ojimori.com/cambuk-untuk-marni-20121102</link>
		<comments>http://www.ojimori.com/cambuk-untuk-marni-20121102#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 02 Nov 2012 06:50:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Politik]]></category>
		<category><![CDATA[Cambuk]]></category>
		<category><![CDATA[Marni]]></category>
		<category><![CDATA[untuk]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ojimori.com/?p=8804</guid>
		<description><![CDATA[Stage 1Di bangku sebuah taman kota, duduk gadis usia belasan tahun. Ia terlihat sibuk membuka beberapa buku pelajaran miliknya yang kucel -hampir sobek, sebentar-sebentar ia menoleh ke kanan,menengadah, lalu meremas rambutnya. Tak kurang dari lima belasan menit, tiba-tiba dihempaskannya buku pelajaran itu ke tanah, beberapa kali helaan napasnya terdengar panjang. Nampak ada gelisah mengisi benaknya. [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><BODY readability="0">Stage 1</P>Di bangku sebuah taman kota, duduk gadis usia belasan tahun. Ia terlihat sibuk membuka beberapa buku pelajaran miliknya yang kucel -hampir sobek, sebentar-sebentar ia menoleh ke kanan,menengadah, lalu meremas rambutnya. Tak kurang dari lima belasan menit, tiba-tiba dihempaskannya buku pelajaran itu ke tanah, beberapa kali helaan napasnya terdengar panjang. Nampak ada gelisah mengisi benaknya. Sementara terik siang semakin menggenapi sejuta resah itu. Perlahan gadis itu melangkah kemudian memunguti bunga kamboja yang jatuh, lalu dipisahkan kelopaknya satu per satu dengan penuh perasaan. Bunga kamboja itu gugur untuk kedua kalinya.</P>Marni    : “Kata orang bijak hidup adalah pilihan, tantangan yang hendak dan akan kita taklukkan, apakah nantinya kita menjadi pribadi yang terombang-ambing keadaan, ataukah pribadi yang diakhir laku menyisakan sebuah senyum, senyum kemenangan dari geliat hidup yang membahana. Tapi…akankah aku bisa melalui semua itu? sementara tubuhku tidaklah sesempurna orang lain, sementara roda nasib sepertinya enggan bergerak, hanya putaran kekal dari pulau derita ke pulau sengsara. Dan emak, emak hanyalah buruh kasar dari sebuah pabrik yang kelangsungannyapun tiada ajeg, hari ini masuk, minggu depan mungkin libur. Andaikata emak dikatakan berpenghasilan, paling uangnya habis untuk kebutuhan sehari-hari, hingga tentu saja pembayaran buku-buku LKS ini menantikan uluran tangan dari teman-temanku, atau belas kasih dari wali kelasku. Ah…inikah pilihan hidup? Atau benarkah ada pilihan hidup itu? Padahal sebelum menghembuskan napas akhir, ayahku yang hanya seorang buruh bangunan, beliau berpesan agar aku menjadi seorang yang berguna untuk keluarga, ibarat menjadi tonggak kukuh dari sebuah rumah yang dahulunya reot, ah… itu berarti aku harus menjadi seorang yang pintar dan kaya. Kaya…dimanakah wajah angkuhmu, pintar dimanakah ku cari dirimu?”</P>Melintas rombongan anak SMA baru saja pulang sekolah. Dua dari lima rombongan itu sedang memainkan handphone Blackberrynya, sementara sisanya, asyik mengobrolkan sesuatu hal yang tak jelas. Nampak, rombongan itu tidak memperhatikan keberadaan Marni. Sementara Marni hanya menatap keriangan rombongan itu serupa gelandangan menatap lezat dan renyah ayam fried chicken dari balik kaca etalase pertokoan.</P>Gadis 1 : “Huft…, sungguh gila Gals! Masak Si Randy memutuskanku via Fewbie semalam coba?Apa die kagak mikir, gue kan malahan bahagia. Ini kan berarti guee..guee bisa cari pacar lagee..coba. Apa dikiranya dunia gue bakal runtuh?hahahaha…” (tertawa berkepanjangan)</P>Gadis 2 : ”Hm..emm” (asyik memainkan facebook lewat HP)</P>Gadis 1 : “Eh…rambut gue bagus nggak?”</P>Gadis 2 : “Hm..emm” (masih asyik memainkan facebook lewat HP)</P>Gadis 3 : “Emang bis dari nyalon ya, Bel? Menikyur pedikyur sembari kukyur kukyur, Ih…narsis kaleee.”</P>Gadis 1 : “Ya…iyalah Bok, emang uang dari babe buat ngapain kalau bukan buat beginian coba? hahahaha…” (tertawa berkepanjangan) iya kan, Ruth?</P>Gadis 2 : “Hm..emm” (masih asyik memainkan facebook lewat HP, kemudian membuka tas dan mengeluarkan MacD dan sebotol Fanta merah)</P>Gadis 1 : “Eh Rud, Lu sedang ngapain seh? Nulis status ya?</P>Gadis 2 : “Iya Bel, ini gue sedang bercakap dengan bokap yang sekarang sedang di Aussie, Bokap menanyakan kiriman Laptop Apple sebagai hadiah ultah gue kemarin sudah kuterima atau belum, hehehe…”</P>Gadis 1 : “Jie..jei..jie, apel krowak nih, pantas dari tadi kuajak bicara hanya ha..he ha..he ha..he …saja, selamat ya Rud.”</P>Gadis 2 : “Ok, thank’s Bel…(sembari meneguk kembali Fanta merahnya)</P>Marni hanya menelan ludah meski barangkali air liurnya sudah habis sedari tadi. Panas matahari masih menyengat, meski jam yang menempel di tugu taman sudah menunjukkan pukul dua. Perginya rombongan anak SMA itu semakin menambah kepeningan di kepala Marni. Dalam hati Marni, muncul ketidakpercayaannya pada malaikat pembagi rejeki. Maka hal itu hendak ditanyakan pada Pak San nanti sore. Ya…hanya Pak San lah segala muara tanya akan berlabuh. Hanya pada Pak San, gelisah batin Marni akan tenang. Sebab, Sosok guru SDnya itu masih menghuni relung-relung batin Marni, meski ia telah masuk gerbang SMP dua tahun yang lalu.</P>Stage 2</P>Diketuklah pintu rumah itu. Pintu berwarna coklat kusam yang diyakini Marni, tidak berwarna kusam lima tahun lalu. Masih belum ada jawaban dari dalam rumah. Kembali Marni mengetuk. Dilembutkan salamnya berulang-ulang. Marni ingat dulu di rumah inilah Pak San membimbingnya dengan penuh kesabaran. Mengajarinya berbagai hal, baik pelajaran sekolah maupun petuah-petuah hidup. Di sinilah Marni mampu bersaing secara positif dengan teman-temannya yang dileskan orang tua masing-masing di lembaga bimbingan belajar terkenal. Hingga lewat tangan dingin Pak San dan gelegak semangat Marni, ia menduduki peringkat pertama di kabupaten. Masih belum ada jawaban. Terlihat gerak burung gereja hinggap di pelataran. Burung itu menatap Marni yang masih ngunggun menunggu pintu. Sejenak burung gereja itu pun pergi.</P>Pak San                : “Siapa?”</P>Marni    : “Marni Pak, Gadis pinggir kali putra Hasan Ali”</P>Pak San                : “Oiiii…Marni tumben, angin apa yang membawamu kemari, Marni, bapak kira kamu sudah lupa pada bapak, hahaha…mari mari…masuk, wah sayangnya Si Yuni ikut mbakyunya ke Semarang kemarin, Mar. Kalau tidak tentu Ia senang, lha wong kedatanganmu memang Ia nantikan je.”</P>Tanggapan Pak San masih sama, hangat dan penuh kasih. Yuni adalah putri kedua Pak San, yang usianya memang hampir sebaya dengan Marni. Dipandanginya ruang tamu itu. Di sebelah pojok kanan poster burung garuda presiden juga wakilnya. Di sebelah kiri ada gambar lukisan pedesanan yang terlihat asri, sementara di sampingnya, tulisan arab dan bulus yang sudah diawetkan. Tata letak ruang tamu itu masihlah sama ketika Marni setiap hari belajar pelajaran tambahan di rumah Pak San. Sungguh, Marni tidaklah lupa pada jasa Pak San dan keluarganya, hanya ia terlalu malu bahwa banyak jasa-jasa keluarga Pak San pada keluarga Marni karena hingga sampai sekarangpun masih dan belum sanggup Marni membalasnya. Bahkan sampai di akhir hidup Bu San, Marni hanya baru sempat mengucapkan terimakasih kepada Bu San.</P>Pak San                : “ Ada apa Mar, bapak lihat wajahpun tidaklah berseri seperti biasanya, adakah sesuatu hal yang bisa bapak bantu, ayolah…ceritakan kepada bapak, engkau ini sudah bapak anggap sebagai bagian dari keluarga bapak. “</P>Marni    : “ E..e..(tenggorokannya tercekat, ada selaksa gulana menggumpal di dalamnya)</P>Pak San : “ Ada apa Mar, hayo katakan saja…jangan malu. Apakah ibumu mempunyai kesulitan di dalam hal yang berhubungan dengan biaya sekolahmu? (Pak San terdengar sangat berhati-hati untuk bertanya hal itu)</P>Marni    : “ Bukan Pak, ee…bukan masalah itu. Masalah ini hanyalah bermula di diri dan pikiran saya pribadi kok Pak, bahkan Ibupun tidak tahu kalau saya sowan ke sini.”</P>Pak San                : “ Wah, masalah apa itu? O.., apapun masalah yang kau hadapi, tetapi jika kau keluar rumah biasakan pamit pada ibumu, Marni!</P>Marni    : “ Inggih Pak, ee…begini Pak (dihelanya napas panjang sebelum ia bercerita)</P>Lalu mengalirlah cerita Marni serupa hujan pertama bulan Desember. Segala beban dan kepenatan dalam dadanya, ia tumpah. Mulai dari harapan-harapannya, juga harapan dari mendiang ayah dan ibunya. Mulai dari ketakutan-ketakutannya, juga ketakutan dari mendiang ayah dan ibunya. Pak San tampak berkonsentrasi ketika mendengar cerita Marni, sesekali beliau mengangguk, tersenyum, merenung kemudian menatap Marni dalam-dalam. Bersama dentang jam lima kali di dinding rumah Pak San, Airmata Marni menetes deras di pipi.</P>Pak San                : “ Itulah hidup dan lika-likunya Mar, Bapak harap engkau tetap tabah dan sabar. Oh ya,                                                  tahukan engkau pada K.H. Agus Salim, Mar?”</P>Marni                   : (sambil menyeka tetes airmatanya) “Iya..pak. “</P>Pak San                : “Tahukah engkau kisah hidupnya? tahukah engkau langkah-langkahnya dalam menghadapi                                        persoalan hidup?”</P>Marni    : (masih menyeka airmatanya) “belum Pak.”</P>Pak San                : “Kyai Haji Agus Salim adalah orang yang luar biasa hebat, Mar. Beliau dikenal sebagai seorang diplomat, sastrawan, orator ulung dan juga ulama yang sangat mendalam ilmu agamanya. Tahukah engkau, Mar, kyai ini mengusai secara aktif tujuh asing yakni bahasa Belanda, Inggris, Arab, Turki, Perancis, Jepang, dan Jerman. Bahkan Proklamator republik ini pun mengaku pernah meguru pula sangat hormat kepada beliau, Mar. Suatu waktu, K.H Agus Salim pernah berharap pada Pemerintahan Belanda untuk mengabulkan permohonan beasiswa agar ia bisa meneruskan cita-citanya masuk sekolah kedokteran. Rupanya Pemerintah tak mengabulkannya. Hingga seorang tokoh terkenal lainnya, yakni Raden Ajeng Kartini, karena tahu akan kepandaian Kyai Agus Salim, mengirimkan surat pada noni-noni Belanda kenalan yang juga sahabat karibnya, agar beasiswa yang semestinya untuk dirinya (RA. Kartini) dilimpahkan pada Kyai Agus Salim ini. Pemerintah akhirnya setuju, namun, Agus Salim menolak. Dia beranggapan pemberian itu karena usul orang lain, bukan karena penghargaan atas kecerdasan dan jerih payahnya. Salim tersinggung dengan sikap pemerintah yang diskriminatif. Kemudian Agus Salim memilih berangkat ke Jedah, Arab Saudi, untuk bekerja sebagai penerjemah di konsulat Belanda di kota itu antara 1906-1911. Di sana, dia memperdalam ilmu agama Islam pada Syech Ahmad Khatib, imam Masjidil Haram yang juga pamannya, serta mempelajari diplomasi. Hingga di kemudian hari beliau di kenal sebagai singa yang pandai menyusun kata, tegas dalam bersikap, sederhana dalam hidup, serta dalam ilmu agama.”</P>Marni    :               “Tapi kyai ini kan tidak miskin dan cacat kaki seperti Marni, Pak?”</P>Pak San :              “Ha…ha, Marni..Marni, semua manusia itu sama di sisi Tuhan, tiada ada kaya dan miskin, yang dilihat Tuhan adalah sisi kebermanfaatan hidupnya untuk kehidupan ini. Yah, memang dalam hidup ini, tidaklah semua keinginan kita kan terpenuhi, ada saja bagian yang kurang, namun pasti ada juga bagian kita yang lebih. Engkau dianugerahi kecerdasan oleh Tuhan, jauh di atas rata-rata anak seusiamu, meskipun ada juga kekurangan fisikmu. Namun itu bukan kendala untukmu berbuat kebaikan pada hidup dan kehidupan ini kan? Engkau mungkin masih ingat cerita sejarah yang pernah bapak ceritakan yakni, Jendral Sudirman. Jendral Sudirman itu dalam keadaan sakit paru-paru yang sangat parah, ketika berjuang melawan penjajah, Marni, hingga banyak tentara Belanda dan Jepang gentar melawan sepak terjangnya.”</P>Marni    : “ Lalu apa yang bisa Marni Lakukan, Pak San?”</P>Pak San :              “Belajar dan tirulah semangat belajar para pahlawan-pahlawan republik ini, Mar! Pak Karno, Pak Hatta, Tan Malaka, Syahrir juga tokoh lainnya, mereka itu kemana-mana membawa dan membaca buku meski dalam masa pengasingan. Tak peduli malam atau siang, entah itu penjara Suka Miskin, sunyinya Boven Digul ataupun dingin dinding penjara-penjara lain. Tirulah sifat pantang menyerah, kedisiplinan dan bagaimana pahlawan itu menghargai waktu. Juga, tirulah sifat tabah menghadapi dera dan cobaan hidup, Mar, sebab dalam hidup itu pasti ada perjuangan yang harus dilalui oleh siapapun. Barangsiapa orang yang melewati cobaan itu dengan penuh keikhlasan dan ketabahan, bila roda nasibnya berubah maka orang-orang itu pasti bertambah rasa syukurnya kepada Tuhan, dan biasanya, ia masih mengingat masa sulit itu hingga tumbuh niatannya untuk membantu tetangga atau siapapun yang membutuhkan bantuannya.”</P>Rembang petang datang membayang, namun hati Marni seperti ada jutaan pijar lampu. Mendadak segala ketakutan-ketakutannya lenyap, menguap bersama akhir pitutur dari guru tercintanya.</P></p>
<p>kompasiana</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ojimori.com/cambuk-untuk-marni-20121102/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>wanita adalah api</title>
		<link>http://www.ojimori.com/wanita-adalah-api-20121030</link>
		<comments>http://www.ojimori.com/wanita-adalah-api-20121030#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 30 Oct 2012 06:05:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Politik]]></category>
		<category><![CDATA[adalah]]></category>
		<category><![CDATA[Wanita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ojimori.com/?p=8802</guid>
		<description><![CDATA[wanita adalah apiwanita itu hangat…!wanita itu sahabat yang paling lembutwanita itu bisa menerangi kegelapankuwanita itu menemaniku didalam kesendirianwanita itu memberikan cahaya didalam kesedihankuwanita itu penuh akan cintawanita itu begitu tenangwanita itu seperti api ungunwanita…wanita…!!wanita adalah apiwanita itu jahat…!wanita itu musuh yang menakutkanwanita itu membuat aku butawanita itu membuat aku gilawanita itu membuat aku menangis darah [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><BODY readability="0"><P>wanita adalah api<BR>wanita itu hangat…!<BR>wanita itu sahabat yang paling lembut<BR>wanita itu bisa menerangi kegelapanku<BR>wanita itu menemaniku didalam kesendirian<BR>wanita itu memberikan cahaya didalam kesedihanku<BR>wanita itu penuh akan cinta<BR>wanita itu begitu tenang<BR>wanita itu seperti api ungun</P><P>wanita…wanita…!!</P><P>wanita adalah api<BR>wanita itu jahat…!<BR>wanita itu musuh yang menakutkan<BR>wanita itu membuat aku buta<BR>wanita itu membuat aku gila<BR>wanita itu membuat aku menangis darah karena cinta<BR>wanita itu penjilat cinta kesemua kaum adam<BR>wanita itu riak bagai ombak<BR>wanita itu seperti neraka</P><P>wanita…wanita…!!</P></p>
<p>kompasiana</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ojimori.com/wanita-adalah-api-20121030/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>SDS As-Syafi’iyah 02 Digemari User</title>
		<link>http://www.ojimori.com/sds-as-syafiiyah-02-digemari-user-20121025</link>
		<comments>http://www.ojimori.com/sds-as-syafiiyah-02-digemari-user-20121025#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 25 Oct 2012 21:37:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Politik]]></category>
		<category><![CDATA[AsSyafiiyah]]></category>
		<category><![CDATA[Digemari]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ojimori.com/?p=8800</guid>
		<description><![CDATA[SDS Unggulan As-Syafi’iyah 02 Jalan Raya Jatiwaringin 08 begitu digemari. Itu terlihat dari antusiasme orang tua yang ingin mendaftarkan anaknya agar dapat mengenyam pendidikan di sekolah tersebut. Memang SD Unggulan As-Syafi’iyah 02 merupakan sekolah swasta yang memiliki reputasi prestasi sangat membanggakan. Beragam prestasi tingkat lokal, kota, provinsi, hingga nasional pernah diraih. Maka, wajarlah jika banyak [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><BODY readability="0">SDS Unggulan As-Syafi’iyah 02 Jalan Raya Jatiwaringin 08 begitu digemari. Itu terlihat dari antusiasme orang tua yang ingin mendaftarkan anaknya agar dapat mengenyam pendidikan di sekolah tersebut. Memang SD Unggulan As-Syafi’iyah 02 merupakan sekolah swasta yang memiliki reputasi prestasi sangat membanggakan. Beragam prestasi tingkat lokal, kota, provinsi, hingga nasional pernah diraih.<STRONG> </STRONG>Maka, wajarlah jika banyak orang tua tertarik untuk menyekolahkan anaknya di sekolah itu.</P>Anak saya ketiga-tiganya sekolah di situ, Alhamdulillah pintar ngajinya, dan banyak surat-surat di Al Qur’an yang dihafalnya serta bacaan-bacaan doa dalam sholat semua sudah dihafal dan juga Alhamdulillah anak saya rajin sholat lima waktu.</P>Selain itu di akademik anak saya selalu mendapat peringkat sepuluh besar, pernah juga peringkat pertama dan pernah juga mengikuti tes beasiswa dari yayasan tetapi belum rejeki pesaingnya ketat sehingga kalah satu digit dan akhirnya tidak berhasil meraih beasiswa.</P>Sekolah anak saya ini tergolong berfasilitas bagus. Gedung berlantai empat dan ber AC, halamannya luas, tempat parkir luas, dan kategori sekolah elit. Semua fasilitas tersebut jelas sangat mendukung dalam pelaksanaan pembelajaran.</P>Walaupun demikian, uang masuknya termasuk sangat murah apabila dilihat dari fasilitas dan kualitasnya begitu juga dengan iuran bulanannya (SPP) sangat sangat murah. Saya sangat beruntung bisa menyekolahkan anak ke sekolah SDS As-Syafi’iyah 02 Jatiwaringin. Selain dekat dengan rumah, bisa terjangkau dengan isi kantong saya. Karena tidak semua siswa bisa masuk ke sekolah tersebut. Kenapa? Ya karena harus ikut tes seleksi.</P>Sekolah tersebut dihalaman parkirnya tak terlihat mobil yang murah ya mungkin mayoritas walimuridnya orang papan atas alias tajir kaya raya sehingga tongkrongannya ya luar biasa. Merci, Jaguar, Alphat, BMW, Volvo terbiasa parkir di halaman sekolah tersebut.</P>Kalau ada keluaran mobil yang terbaru, tak lama kemudian bermunculan juga mobil mobil baru yang di parkir di halaman SDS As-Syafi’iyah tersebut. Apalagi kalau penerimaan raport wuih luar biasa penampilan orang tua murid gak ada yang kelihatan ndeso semuanya terlihat rapi dan penampilannya luar biasa dengan tongkrongannya yang luar biasa juga. Dimana tongkrongannya/mobilnya memenuhi halaman yang ada di SDS As-Syafi’iyah 02 tersebut.</P></p>
<p>kompasiana</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ojimori.com/sds-as-syafiiyah-02-digemari-user-20121025/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jasa gambar murah</title>
		<link>http://www.ojimori.com/jasa-gambar-murah-20121020</link>
		<comments>http://www.ojimori.com/jasa-gambar-murah-20121020#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 20 Oct 2012 21:38:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Politik]]></category>
		<category><![CDATA[gambar]]></category>
		<category><![CDATA[murah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ojimori.com/?p=8798</guid>
		<description><![CDATA[Kami menerima jasa pembuatan gambar desain 2d dan 3d baik dengan autocad, solidworks, illustrator maupun photoshop untuk3D SEGALA PRODUK, 2D SEGALA PRODUK, Design ARTWORK, SEPARASI FILM, REDRAW DRAWING.Dengan Harga mulai dari 50 ribu rupiah tergantung tingkat kesulitan dari gambar yang akan dibuat.silahkan kunjungi :belajar autocad kompasiana]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><BODY readability="0"><P>Kami menerima jasa pembuatan gambar desain 2d dan 3d baik dengan autocad, solidworks, illustrator maupun photoshop untuk<BR>3D SEGALA PRODUK, 2D SEGALA PRODUK, Design ARTWORK, SEPARASI FILM, REDRAW DRAWING.<BR>Dengan Harga mulai dari 50 ribu rupiah tergantung tingkat kesulitan dari gambar yang akan dibuat.</P><P>silahkan kunjungi :<BR>belajar autocad</P></p>
<p>kompasiana</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ojimori.com/jasa-gambar-murah-20121020/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>CAS Tak Mengabulkan Gugatan Persipura-KPSI</title>
		<link>http://www.ojimori.com/cas-tak-mengabulkan-gugatan-persipura-kpsi-20121017</link>
		<comments>http://www.ojimori.com/cas-tak-mengabulkan-gugatan-persipura-kpsi-20121017#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 17 Oct 2012 16:32:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Politik]]></category>
		<category><![CDATA[Gugatan]]></category>
		<category><![CDATA[Mengabulkan]]></category>
		<category><![CDATA[PersipuraKPSI]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ojimori.com/?p=8796</guid>
		<description><![CDATA[Keputusan CAS sangat melegakan. Itu karena CAS tak mengabulkan gugatan penggugatnya, kelompok KPSI. Bahkan dengan keputusan CAS ini seharusnya membuat Persipura harus membatalkan pengakuannya kepada KPSI. Tentunyan klub-klub lain pun wajib melakukan hal yang sama. Selama ini Persipura dan serombongan klub lain mengalihkan pengakuan kepengurusan PSSI kepada KPSI. Nah keputusan CAS harus diartikan sebagai “kekalahan” [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><BODY readability="0"><P><STRONG>Keputusan CAS sangat melegakan. Itu karena CAS tak mengabulkan gugatan penggugatnya, kelompok KPSI. </EM></STRONG></P><P>Bahkan dengan keputusan CAS ini seharusnya membuat Persipura harus membatalkan pengakuannya kepada KPSI. Tentunyan klub-klub lain pun wajib melakukan hal yang sama. Selama ini Persipura dan serombongan klub lain mengalihkan pengakuan kepengurusan PSSI kepada KPSI. Nah keputusan CAS harus diartikan sebagai “kekalahan” penggugat (Persipura +KPSI) .</P><P>Dilihat dari sudut manapun keputusan CAS tetap menguntungkan buat PSSI. Sebaliknya memberi sinyal kekalahan buat KPSI. Mengapa?</P><P>Sebab ditilik secara bodoh-bodohan saja keputusan CAS memberikan konsekuensi sebuah pengakuan bahwa hanya <STRONG>ada satu PSSI</STRONG>. Dengan demikian KPSI harus gugur demi hukum. Apalagi sejak awal CAS menolak memberikan legitimasi KLB mereka. </P><P>Selanjutnya bahwa CAS telah memerintahkan PSSI (tentunya bukan KPSI) untuk membayar kontribusi ongkos mereka (bantuan biaya buat pihak Penggugat yang udah capek-capek berperkara atau <STRONG>ganti rugi</STRONG>). Poinnya sangat sepele dan sangat tidak substatif yaitu Hanya urusan memberikan kontribusi biaya kepada Persipura doang. Tak ada substansi lain, semisal soal apakah Persipura berhak atau tidak dalam mengikuti babak play-off</EM> piala AFC sebagaimana tuntutan Persipura. Mungkin hal itu sudah terjawab melalui poin nomor 5.</P><P>Namun keputusan yang sudah cetho welo-welo</EM>, terang benderang itu bakal dipelintir pihak KPSI. Dari mana mereka bisa mengatakan kemenangan? Sebuah pertanyaan yang sangat sederhana. Sebab untuk mengatakan kemenangan harus memenuhi dua hal: Mereka menuntut apa</EM> dan dikabulkan apanya</EM><STRONG readability="5">. Itu saja. Sangat sederhana bukan. Dan isi keputusan akhir CAS tak ada dalam tuntutan/gugatan mereka. Ini clear</EM>.<BR>Saya jadi ingat para pendukung KPSI beberapa waktu lalu yang sering menulis dalam kolom komentar Kompas, tunggu keputusan CAS tentang kekalahan PSSI. Oh… jadi Cuma seperti itu toh yang dimaksud bakal ada kejutan.</P><P>Ah, aya-aya wae </EM>neeh kelompok KPSI! Kalau punya otak, ikuti tuh keputusan CAS. (PSSI tentunya mau bayar dengan catatan Persipura ikut PSSI, termasuk membatalkan berlaga di breakaway league</EM> ISL). Selamat buat PSSI!***</P></STRONG></p>
<p>kompasiana</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ojimori.com/cas-tak-mengabulkan-gugatan-persipura-kpsi-20121017/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cinta Kasih Kepada Ibu</title>
		<link>http://www.ojimori.com/cinta-kasih-kepada-ibu-20121013</link>
		<comments>http://www.ojimori.com/cinta-kasih-kepada-ibu-20121013#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 13 Oct 2012 14:54:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Politik]]></category>
		<category><![CDATA[Cinta]]></category>
		<category><![CDATA[Kasih]]></category>
		<category><![CDATA[Kepada]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ojimori.com/?p=8794</guid>
		<description><![CDATA[saya kuliah di gunadarma&#8230; jurusan sistem komputer&#8230; i&#8217; bee come to programer pleasse come to my blog.. fauzi-sistem.blogspot.com.. and fb fauzi irawan.. ok salam ug IbuCinta kasihmu tak kan tergantiTak kan lekang oleh waktuKasih sayang mu tiada hentiTanpa batas untuk kuIbukau inspirasikuCermin bagi masa depan  bagikuSegalanya telah kuberikan untukmuTiada yang tak mungkin untukmuIbuDentingan nafasmu menyelemuti [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><BODY readability="0"><IMG border=0 src="http://www.ojimori.com/wp-content/uploads/2012/05/wpid-11340669951335359550319242620.jpg" width=45 height=45> <P>saya kuliah di gunadarma&#8230; jurusan sistem komputer&#8230; i&#8217; bee come to programer <img src='http://www.ojimori.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' />  pleasse come to my blog.. fauzi-sistem.blogspot.com.. and fb fauzi irawan.. ok salam ug <img src='http://www.ojimori.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </P><P><IMG class="aligncenter size-medium wp-image-175613" title=1336233981799249216 alt=1336233981799249216 src="http://www.ojimori.com/wp-content/uploads/2012/05/wpid-1336233981799249216300x24334140435835.jpg" width=300 height=243></P>Ibu</P>Cinta kasihmu tak kan terganti</P>Tak kan lekang oleh waktu</P>Kasih sayang mu tiada henti</P>Tanpa batas untuk ku</P>Ibu</P>kau inspirasiku</P>Cermin bagi masa depan  bagiku</P>Segalanya telah kuberikan untukmu</P>Tiada yang tak mungkin untukmu</P>Ibu</P>Dentingan nafasmu menyelemuti hari hingga senja<BR>Tak tersimpan setitik kelelahan di wajahmu<BR>Tak ada sesal saat semua harus kau lalui<BR>Langkahmu tak pernah henti<BR>Melangkah untukku </P>Ibu</P>Kasihmu tak kunjung redah<BR>Walau dalam lelah<BR>Kau tetap merangkai kata bijak untukku<BR>Mengurai senyum<BR>Di setiap langkahku<BR>Mendera doa<BR>Di setiap helai nafasku </P>Ibu</P>kau mutiara di hatiku<BR>Relung hatimu sangat indah<BR>Hingga aku tak mampu menggapai dalamnya<BR>Tetes air matamu menguntai<BR>Sebuah asa untukku </P>Ibu </P>kau menegurku ketika aku salah</P>Engkau mengigatkanku ketika ku lupa</P>Engkau menghiburku ketika ku sedih</P>Engkaulah yang menyembuhkanku ketika aku terluka..</P>Ibu </P>kini aku telah dewasa..</P>Berusaha mengejar dan meraih cita citaku</P>Berharap kan menjadi orang yang berguna</P>Demi mewujudkan dan harapan impian keluarga..</P>Terimakasih ibu </P>Engkaulah segalanya bagiku</P>Tanpamu aku bukanllah apa apa</P>Kasih sayangmu kepadaku tak kan terbalas sepajang masa </P></p>
<p>kompasiana</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ojimori.com/cinta-kasih-kepada-ibu-20121013/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mempertanyakan Kemurnian Dan Kejujuran Kompasioner Ini?</title>
		<link>http://www.ojimori.com/mempertanyakan-kemurnian-dan-kejujuran-kompasioner-ini-20121010</link>
		<comments>http://www.ojimori.com/mempertanyakan-kemurnian-dan-kejujuran-kompasioner-ini-20121010#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 10 Oct 2012 03:12:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Politik]]></category>
		<category><![CDATA[Kejujuran]]></category>
		<category><![CDATA[Kemurnian]]></category>
		<category><![CDATA[Kompasioner]]></category>
		<category><![CDATA[Mempertanyakan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ojimori.com/?p=8790</guid>
		<description><![CDATA[Chapel Hill, Mei 05, 2012Dari tulisan2 mengenai mempertanyakan kemurnian dan kejujuran dari acara suatu Tv swasta, membuat saya menuliskan kritik serta mempertanyakan kompasioner ini. Mengapa?Karena prinsip 2 way street critik berlaku. Karena setelah dengan silent reader saya membaca semua tulisan2 beliau ini. Tidak perlu disebutkan namanya karena para pembaca sendiri dan yang telah menyumbangkan dana [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><BODY readability="0"><P><STRONG>Chapel Hill, Mei 05, 2012</STRONG></P><P>Dari tulisan2 mengenai mempertanyakan kemurnian dan kejujuran dari acara suatu Tv swasta, membuat saya menuliskan kritik serta mempertanyakan kompasioner ini. Mengapa?</P><P>Karena prinsip 2 way street critik berlaku. Karena setelah dengan silent reader saya membaca semua tulisan2 beliau ini. Tidak perlu disebutkan namanya karena para pembaca sendiri dan yang telah menyumbangkan dana tahu siapa orangnya. Bahkan dalam tulisannya2 mengaku sebagai reportase di lapangan.</P><P>Dengan menanyakan kemurnian dan kejujuran suatu badan penyiaran tv, baik itu media massa, media berita, media semi-gossip, media semi-reportase, semi-hiperbola news. Itu bukan urusan saya untuk mempertanyakan mereka, karena semua sudah mengetahui kadang dalam jurnalisme selalu ada yang disebut tambah bumbu, tambah ego, tambah self-centered, tambah kuras airmata.</P><P><STRONG>Faktanya.</STRONG><BR>Kompasioner ini menggunakan cara dari media tv ini. Caranya sama hanya berbeda dengan bumbunya saja. Dalam tulisannya yang terakhir, beliau menujukan dengan jelas bahwa beliau have second thought, tetapi second thought bukan karena kesalahan yang dibuatnya sendiri, tetapi apa yang dilakukan oleh stasiun TV yang mengangkat cerita ini pertama2nya.</P><P><STRONG>Fakta kedua,</STRONG> beliau mengertahui kasus ini karena penyajian stasiun TV ini sendiri, tanpa laporan yang dibuat stasiun TV ini, beliau tidak mendapat sorotan publik. Anehnya setelah mendapat sorotan stasiun TV ini, beliau mencoba mengambil spot light dengan mengkritik, dan mencoba mengmabil alih ketenaran untuk LSM, dan dirinya sendiri.<BR>Ini terbukti dengan adanya tulisan dari orang lain mengenai masalah anak yang SEHARUSNYA menjadi sorotan. Beliau protes, dan merasa beliau lah seolah-olah yang BERJASA, mengangkat tulisan ini ke Media Massa.</P><P><STRONG>Fakta ketiga</STRONG>, beliau tanpa sadar memposisikan dirinya sebagai center of attention, bukan si anak dan keluarga miskinnya yang menjadi Tujuan Mulanya.</P><P><STRONG>Fakta keempat</STRONG>, dalam tulisan2 yang dikatakan reportase, beliau menyebut namanya sendiri lebih dari 25 kali, kata “SAYA” begini, “SAYA” Begitu, “SAYA” begono.</P><P><STRONG>Fakta kelima,</STRONG> beliau menyebutkan objek yang seharusnya menjadikan inti reportase copasan atau kesimpulan dari laporan media TV ini, lalu dilakukan lanjutan ke rumah objek, hanya menybutkan tidak lebih dari 10 nama Objek berita heboh ini, yaitu si SITI yang Membantu Jualan Bakso.</P><P>Lalu dari fakta yang saya cerna dalam tulisan-tulisan beliau dan menonton video acara dari media TV mengenai “Si Siti Penjual Bakso”.</P><P>Membuat saya berkesimpulan,<BR>1. Apakah ini yang disebut reportase, sedangkan penulis menuliskan mengenai DIRI nya sendiri lebih dari objek yang ditulisnya?<BR>2. Setelah orang lainnya juga menuliskan berita yang sama, dan mencoba menulis secara amatiran atau sekedar menulis menurut isi hatinya. Beliau harus mengeritik dan mengatakan itu berita penulis.<BR>3. Sejak kapan beliau memiliki Hak exclusve tentang berita ini, beliau juga mendapat berita ini kan dari stasiun TV juga.<BR>4. Dan dari foto2 yang ada, terlihat center nya bukan si SITI, tetapi penulis itu sendiri dan teman2nya. Bayangkan dalam tulisan2nya beliau mengeritik kebijaksanaan pemerintah yang mencari percitraan. Sedangkan dari foto2 yang ditayangkan terlihat betapa Narsis, dan penuh percitraan. Biaya nya saja sudah terlalu banyak hanya untuk mengurus satu anak yang katanya butuh bantuan.<BR>5. Jika 1 kasus saja sudah mengeluarkan pecitraan, dengan Banner yang mungkin sekarang seharga 400 ribu rupiah, ongkos sewa mobil selama 3 hari sudah hampir 1juta rupiah, makan dan bensin, akomodasi, citraan lainnya sudah hampir 1 juta rupiah.<BR>Lalu jika kita kalikan 10,000 kasus berapa biaya yang harus dikeluarkan? Bagaimana dengan 1 juta kasus. Menurut perkiraan perkiraan di Indonesia ada 90 juta masyarakat Indonesia menghadapi masalah yang sulit ini.<BR>Apakah penulis mengerti ini?<BR>6. Kesimpulan ini adalah membaca tulisan2 yang beliau tuliskan sangat menarik buat saya, apalagi tulisan beliau selalu membicarakan masalah politik yang ada di Indonesia. Tetapi dalam kasus ini jelas terlihat sekali membuat perlunya di pertanyakan Kemurnian dan Kejujuran Beliau.<BR>7. Banyak yang terjadi selalu demikian sulit membedakan antara hidup di dunia nyata, dan dunia khayalan yang penuh dengan ambisi yang indah penuh dedikasi. Tanpa sadar mereka telah melakukan kesalahan yang fatal</P><P>Apa kesalahan fatalnya,<BR>1. Dengan melakukan hal ini, membuka Pandora door, dimana merusak tatanan yang ada di kampung Siti, sekarang mereka merasa tidak di perhatikan.<BR>2. Kesalahan ini di buat di Papua di tahun 70an, oleh banyak dari LSM2 yang datang ke sana.<BR>3. Tanpa sadar hanya Menonjolkan ME, dan LSM Me nya. mengingatkan dengan orang2 Bule yang menggunakan kemiskinan di Afrika, Laos, dan Kamboja, dan daerah2 miskin di dunia untuk Menonjokan Me mereka, dengan hidup 2 bulan disana. Mereka berpikir mereka sudah bisa menyelesaikan masalah yang ada di disana.<BR>4. Penulis dalam tulisannya seolah2 tidak pernah hidup dari kemiskinan yang ada. Seperti cara berpikir orang-orang bule yang merasa mengentahui dan menggunakan Dirinya sebagai SOLUSI Center Of The Attention, bukan kemiskinan itu sendiri.</P><P>Bagi penulis ini adalah konstruktif kritik dari seorang yang pernah dan hidup bertahun2 keliling dunia dan hidup di paralel world. Analogi yang dapat dipakai adalah, Salah satu kompasioner mengatakan kepada saya, mengenai Politikus mengapa membagi2 kan uang untuk di angkat, dan membeli Vote, karena setelah diangkat, politikus ini tidak akan ingat lagi siapa yang memilih, karena sudah membeli Vote dari rakyat. Jadi Rakyat juga demikian, mereka secara simbiosis saling menggunakan satu sama lain tanpa memikirkan siapa yang mereka angkat, atau siapa yang mereka pilih.</P><P>Apakah beliau sama dengan analogi di atas?</P><P>Dan ini adalah tulisan sekali lagi sebagai pertanyaan yang jelas dan terbuka menanyakan Kemurnia dan Kejujuran dari kompasioner, karena beliau mempertanyakan nya kepada orang lain, sehingga sudah secara fair jika hal ini di pertanyakan kepada beliau.</P><P>Surat ini di tujukan kepada Mbak Ira Oemar. Untuk membaca tulisan beliau silahkan ke profile beliau di rubrik Sosbud.</P><P>Saya menunggu pernyataan umum dari Mbak Ira Oemar sehubungan tulisan ini.</P><P><STRONG>Jack Soetopo</STRONG></P></p>
<p>kompasiana</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ojimori.com/mempertanyakan-kemurnian-dan-kejujuran-kompasioner-ini-20121010/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
