Sebuah kardus bekas mi instan seakan menjadi saksi bisu bagaimana Aprilia berjuang untuk bertahan hidup. Ditemani lampu bohlam lima watt, Aprilia terbaring lemah di ranjang buatan sang ayah. Sekilas memang tak ada yang salah dengan tubuh Aprilia. Namun, siapa pun pasti akan pilu jika melihat wajah dan kepala bayi yang hanya memiliki berat 1,7 kilogram ini.
Aprilia tidak memiliki tempurung kepala. Otaknya hanya dilapisi selaput tipis. Istilah kedokteran menyebutkan Aprilia menderita anencefali atau pertumbuhan otak tidak sempurna. Dalam kondisi demikian, seharusnya Aprilia tidak boleh dibiarkan berada di udara terbuka, apalagi hanya berada di dalam kardus bekas mi instan.
Bayi malang yang lahir dari rahim Dini Aulia ini sempat dirawat di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Salemba, Jakarta. Namun, ongkos bolak-balik RSCM yang dianggap mahal, membuat kedua orangtua Aprilia memutuskan membawa kembali putrinya ke rumah.
Namun sungguh ironis. Di hari kelima atau Kamis (3/5) dini hari tadi, setelah Aprilia lahir ke dunia, sang bocah pun kembali ke Sang Pencipta untuk selama-lamanya. Lagi-lagi, kemiskinan membuat seorang bayi tak berdosa mati sia-sia.(ANS)
sumber : http://kesehatan.liputan6.com
