Seirama dengan perkembangan zaman, pemikiran tentang Islam di kalangan masyarakat Madura sudah bertambah maju. Era intelektualisme sepanjang dekade 1980-1990-an cukup memiliki pengaruh. Saya belum menjumpai atau mendengar orang tua Madura yang bersikap konservatif dan bertindak fasistik seperti salah seorang kenalan saya, misalnya.
Coba, kenalan saya itu melarang putrinya memakali jilbab. Sedangkan seorang Madura belum pernah dalam sejarahnya melarang anak putrinya bahkan untuk menunggang sapi!
Untuk apa melarang-larang anak. Bukan soal jilbabnya: terserah saja apa pendapat Ente tentang jilbab, dilihat dari sudut syariat, sosial budaya, politik, mode dan seterusnya. Tapi mbok ndak usah melarang-larang! Kenalan saya itu melarang anaknya pakai jilbab, demi era desimbolisasi formalistik Islam; padahal belum pernah terdengar ia melarang anaknya menemui tamu atau pergi kuliah dengan tak berpakaian sama sekali.
Orang Madura lebih maju. Paling-paling, sebelum anak pergi merantau, orang tuanya hanya berpesan: “Kalau cari suami, Nak, hati-hati. Carilah yang Islam, minimum Muhammadiyah…”
Ente jangan keburu mengecam term “minimum Muhammadiyah”, yang secara harfiah berarti “Muhammadiyah adalah Islam minimal”. Tapi pakailah perspektif yang lebih luas untuk memahami statemen itu sosiologis-historis, umpamanya.
Coba Ente ingat-ingat. Kalau Ente pergi ke Yogya dan omong-omong dengan orang kampung, kalau Ente bertanya: “Putra Bapak kuliah di mana?”
Si Bapak akan menjawab: “Di Gama UII”, atau Di Gama UPN”, “Di Gama Atmajaya”.
Gama itu singkatan dari Gajahmada. Yang dimaksud tentu Universitas Gadjah-Mada, perguruan tinggi tertua di Indonesia.
Itu biasa. Kalau Ente bertanya lagi, “Apa masyarakat Yogya tetap setia berlangganan KR?”
“KR” itu singkatan dari Kedaulatan Rakyat, koran tradisional dan legendaris bagi orang Yogya dan koran tertua di Indonesia. Si Bapak akan menjawab: “Yaaa, sekarang ada juga yang langganan KR Bernas, KR Suara Merdeka, KR Kompas atau KR Jawa Pos, Mas.”
