Sejak 10 tahun terakhir, terlihat kemajuan luar biasa dari anak-anak Orang Rimba di kawasan Makekal, dalam Taman Nasional Bukit Duabelas, di Kabupaten Tebo, Provinsi Jambi. Mereka yang sebelumnya tak kenal membaca, menulis dan berhitung, setelah diberikan pendidikan alternatif oleh Komunitas Konservasi Indonesia (KKI)-Warsi sejak 1998, anak-anak Rimba bisa baca-tulis-hitung (BTH) serta terampil mendongeng. Sebagian dari dongeng yang mereka tulis sudah dibukukan dengan judul Kisah-kisah Anak Rimba (Pengantar Kak Seto, penerbit KKI-Warsi, 2007).

JAMBI, KOMPAS.com - Sekitar 350 anak rimba atau suku anak dalam di Taman Nasional Bukit Duabelas, Jambi mengikuti sekolah atau kelas jauh yang diselenggarakan organisasi pemerhati orang rimba bersama pemerintah setempat.

Ade Chandra, asisten Koordinator Proyek Bukit Duabelas, Komunitas Konservasi Indonesia (KKI) Warsi, Jambi, Jumat, mengatakan, total orang rimba di Taman Nasional Bukit Duabelas (TNBD) 1.689 orang dan 600 orang diantaranya adalah anak-anak yang sudah mulai mau belajar membaca dan menulis.

“Sebanyak 350 orang diantaranya sudah bisa membaca dan menulis melalui program kelas jauh,” ujar Ade, Jumat (4/5/2012).

Menurut Ade, proses pendekatan terhadap orang rimba Jambi tergolong lama sejak sepuluh tahun terakhir. Bahkan, untuk mengajak orang rimba mau belajar secara intensif baru bisa dilakukan dalam waktu tiga tahun belakangan.

Meski sudah ada beberapa orang rimba yang mau belajar, tidak bisa dilakukan layaknya sekolah biasa. Pertemuan belajar dan mengajar baru bisa dilakukan rutin dua kali dalam sepekan.

“Itupun tempat belajarnya kami sediakan khusus yang posisinya tidak didalam hutan dan tidak juga berada dikawasan pemukiman penduduk umum. Jadi berada ditengah tengah,” jelasnya.

Khusus anak rimba yang tengah masuk program pendidikan KKI Warsi di TNBD Jambi, di Kabupaten Sarolangun dan Kabupaten Tebo, antara lain di Bukit Suban, Terap dan Kecamatan Muara Tabir.

“Kendala lain adalah stigma di tengah masyarakat umum yang menganggap orang rimba itu sulit, karena berbagai alasan mistik maupun yang lainnya. Inilah kenapa, jarang sekali ada tenaga guru yang mau mengajar khusus bagi anak rimba Jambi,” jelasnya.

Ia menyebutkan, khusus di TNBD baru ada sembilan orang guru yang terdiri atas tiga orang KKI Warsi dan selebihnya dari guru sekolah maupun orang rimba sendiri.

Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Sarolangun, Thabaroni mengakui banyak kendala khususnya mencari tenaga guru yang mau mengajar orang rimba karena lokasinya di tengah hutan.

“Apalagi kebanyakan orang rimba hidupnya nomaden. Jadi cukup sulit,” ujarnya.

Untuk mengatasi hal itu, kata dia, Dinas Pendidikan Kabupaten Sarolangun telah menunjuk beberapa sekolah dasar yang bisa dijadikan kelas jauh bagi komunitas orang rimba.

Diantaranya ada di Kecamatan Air Hitam, Suban dan Pematang Limun. Dimana ketiga daerah itu tepat berbatasan langsung dengan kawasan orang rimba di daerah itu.

Untuk memancing orang rimba bisa belajar, Dinas Pendidikan Sarolangun menyiasatinya dengan membagi bagikan buku maupun pakaian.

Dengan upaya itu diharapkan orang rimba bisa lebih sering membaur dalam upaya peningkatan pendidikan dan lebih mau untuk belajar.

“Kami saat ini juga tengah mencari tenaga guru yang mau mengajar khusus bagi orang rimba dengan insentif Rp 750 ribu per bulan. Salah satunya dengan menerapkan kelas jauh. Bahkan khusus untuk tingkat SD tahun ini sudah ada sekitar 25 anak rimba bisa mengikuti ujian nasional,” tambah Ade Chandra.

copas dari kompas

File added : Tuesday, August 7th 2012.
Category : Trend
reads: Jambi, Kelas, Mengikuti, Rimba

Related Post 350 Anak Rimba Jambi Mengikuti Kelas Jauh

Kebebasan Akademik Itu…

Tahun 2050, penduduk dunia diramalkan mencapai 9 miliar. Manusia akan menghadapi problem sangat kompleks. Mulai dari kekurangan pangan, air bersih, krisis energi, ancaman penyakit,

Pendidikan Indonesia Dinilai Kehilangan Arah

Dunia pendidikan Indonesia dinilai telah kehilangan arah. Saat ini pendidikan hanya dimaknai sebagai teknik manajerial persekolahan yang hanya menitikberatkan pada kemampuan kognitif dan meminggirkan

Kinerja Pengawas Sekolah Dikeluhkan

Kinerja pengawas sekolah di jenjang SD hingga SMA sederajat dikeluhkan para guru. Pengawas dinilai justru menjadi penghambat sekolah dan guru, untuk melakukan terobosan dalam

Sekolah Dilarang Lakukan Pungutan UN

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) melarang sekolah menarik pungutan untuk pelaksanaan Ujian Nasional (UN). Jika ditemukan, pungutan itu masuk dalam kategori pungutan liar dan

Sekolah Tak Berhak Menahan Ijazah

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) menjamin semua siswa akan mendapatkan ijazahnya setelah lulus Ujian Nasional (UN). Kalaupun ada tunggakan sekolah yang menghambat siswa mendapatkan